Sukuh : Antara Pemujaan dan Seksualitas

Sabtu, 29 Mei 2010.


Berbentuk apa ya gambar itu,,,,?????  Benar. Itu adalah relief alat kelamin pria dan alat kelamin wanita yang oleh masyarakat setempat diistilahkan dengan Lingga (pria) dan Yoni (wanita). Relief tersebut berada gerbang depan kompleks candi Sukuh. Salah satu candi yang unik karena diyakini merupakan candi yang digunakan, selain itu tempat pemujaan, namun juga sebagai representasi dari seksualitas masa itu.
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta. Merupakan candi agama hindu yang dibuat sekitar abad ke XV masehi. Hal ini dibuktikan dengan prasasti yang terdapat pada relief bangunan dan arca candi yang diperkirakan berasal dari tahun 1359 saka atau 1437 masehi. Jika sukuh dilihat dari bentuk bangunannya maka bisa ditarik kesimpulan walaupun dibuat pada masa hindu, namun bentuk bangunan dan arca – arcanya identik dengan zaman megalitikum pada masa prasejarah. Bentuk bangunan utamanya berupa punden berundak – undak  beberapa arca lain juga mengidentifikasikan bahwa bentuk dari candi ini bergaya zaman megallitikum. Dalam hal fungsinya, Sukuh digunakan untuk upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan atau ruwatan tampak pada bangunan candi yang berbentuk punden berundak – undak pada masa prasejarah.
            Candi Sukuh ditemukan kembali oleh residen Surakarta yang bernama Johnson pada tahun 1815. Beberapa peneliti asing juga mengadakan penelitian di candi ini seperti Van Der Vlis pada tahun 1842 yang meneliti tentang sisa – sisa reruntuhan di Sukuh, kemudian Hoepermans pada tahun 1864 sampai 1867 yang menulis tentang Sukuh dan Knebel pada tahun 1910 yang menginventarisasikan literature – literature di Sukuh. Untuk peneliti Indonesia terdapat beberapa nama yang meneliti candi ini seperti PH. Soebroto, Ribut Darmosoetopo, J. Padmopuspito dan lain – lainnya. Pada tahun 1917 Sukuh ditangani pemerintah. Pemugaran Candi Sukuh dilakukan pada tahun 1928 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Dalam hal bentuk, candi ini memiliki tiga teras dalam satu kompleks percandian. Teras pertama terdapat pintu gerbang yang dibawah lantainya ada ukiran lingga dan yoni. Pintu ini ditutup pagar, jadi jika ingin masuk ke dalam harus lewat tangga di sebelahnya. Mungkin hal ini disebabkan karena adanya ukiran lingga dan yoni di lantai gapura yang bertujuan agar ukiran ini tidak rusak diinjak – injak orang. Namun, pada masa itu, Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”. Selain itu, mitos yang berkembang di masyarakat sekitar adalah untuk mengetahui apakah seorang wanita masih perawan atau tidak. Jika seorang wanita sudah tidak perawan, maka ketika melewati relief tersebut akan keluar cairan dari alat kelaminnya. Namun, tidak akan terjadi apa – apa jika dia masih perawan.

Masuk teras kedua terdapat dua buah patung penjaga pintu dan sebuah gerbang kecil. Diantara kedua gerbang ini terdapat taman yang cukup indah. Gerbang kedua ini menghubungkan teras kedua dan teras ketiga yang bisa kita katakan teras utama.
Masuk kedalam teras utama, di sebelah kiri teras terdapat ukiran – ukiran yang berbentuk hewan – hewan. Ukiran ini diletakkan secara berderatan yang mungkin dalam ukiran ini terdapat sebuah cerita yang berhubungan. Disebelah kanan teras terdapat tiga buah patung. Patung yang ditengah melambangkan seorang wanita yang diapit oleh 2 patung berbentuk manusia yang memiliki sayap seperti burung. Ditengah teras utama ini terdapat candi utama yang berbentuk punden – berundak – undak. Punden berundak – undak ini diapit oleh dua candi dan didepannya terdapat sebuah patung kura – kura. selain itu juga terdapat sebuah candi kecil untuk pemujaan.
            Hal unik lainnya, hampir semua patung manusia di candi ini tanpa kepala. Menurut Dr. Sri Margana hal ini mungkin dikarenakan adanya pengaruh kebudayaan islam yang telah masuk dikawasan sukuh. Dalam agama islam, perwujudan bentuk manusia utuh tidak diperbolehkan   sehingga ada bagian dari patung ini yang harus dihancurkan. Selain itu, agama islam juga melarang umatnya untuk menyembah berhala.  Namun kemudian timbul sebuah pertanyaan, kenapa patung penjaga pintu gerbang ke dua dan patung yang berada di depan candi utama tidak terpenggal kepalanya? Apakah hal ini karena patung – patung tersebut tidak ada hubungannya dengan system pemujaan atau karena patung tersebut hanya melambangkan buto yang mengerikan, bukan melambangkan manusia?

Comentários:

Posting Komentar

 
Meretas Kembali © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |